Wali Kota Salatiga: Melalui Seni Tari, Kita Siapkan Generasi Berkarakter Menuju Indonesia Emas 2045
Wali Kota Salatiga, dr. Robby Hernawan, Sp.OG., menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat jati diri bangsa melalui pelestarian budaya lokal. Hal tersebut disampaikan Wali Kota saat menghadiri Pagelaran Seni Drama Tari Ajisaka yang digelar oleh Sanggar Seni Bima di Gedung Pertemuan Daerah (GPD) Kota Salatiga, Rabu (17/12/2025).
Hadir didampingi istri, Ibu Retno Robby Hernawan, Wali Kota mengapresiasi langkah konkret pelaku seni dalam menjaga warisan leluhur. Acara ini juga dihadiri oleh Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Tengah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Salatiga, serta jajaran perwakilan Forkopimcam.
Dalam arahannya, Robby menyampaikan bahwa pagelaran yang mengangkat legenda Jawa ini merupakan sarana efektif dalam pembangunan karakter (character building) bagi generasi muda.
“Malam ini adalah bukti nyata semangat nguri-uri budaya. Seni bukan hanya tontonan, tapi alat untuk membina karakter anak-anak kita. Dengan mengenal budaya, anak-anak akan memiliki karakter yang halus dan beretika. Hal ini sangat krusial dalam mencetak generasi berkualitas menyongsong Generasi Emas 2045,” tegas Robby.
Beliau menambahkan bahwa Pemerintah Kota Salatiga akan selalu menjadi garda terdepan dalam mendukung pelestarian budaya Jawa, khususnya seni tradisional yang menjadi ciri khas Salatiga.
Kepala Sanggar Bima, Sutrisno, mengungkapkan rasa syukurnya atas konsistensi sanggar yang telah menginjak usia 27 tahun. Mengusung tema “Seni Tradisional Memperkuat Budaya Lokal”, pihaknya terus berkomitmen menggandeng orang tua untuk menanamkan cinta budaya pada anak sejak dini.
“Di usia ke-27 ini, kami merasa sangat terhormat karena didukung oleh banyak pihak, serta kehadiran maestro tari legendaris dari Yogyakarta, Didik Nini Thowok, yang turut memberikan inspirasi bagi anak-anak kami,” kata Sutrisno
Gedung GPD Salatiga menjadi saksi bisu kemeriahan ragam seni yang ditampilkan secara apik dalam balutan harmoni tradisi dan kreativitas. Selain drama tari Ajisaka sebagai sajian utama, panggung budaya ini turut dimeriahkan oleh alunan musik keroncong, pembacaan macapat, sastra daerah berupa geguritan dan puisi, hingga seni gerak pantomim serta tarian kolaborasi dari berbagai sanggar tari di Kota Salatiga. Puncak acara ditandai dengan penampilan istimewa dan memukau dari maestro tari legendaris, Didik Nini Thowok dari Sanggar Natya Laksita Yogyakarta, yang berhasil memikat perhatian seluruh tamu undangan.
Melalui pagelaran multidimensi ini, diharapkan sinergi antara pemerintah, seniman, dan masyarakat dapat terus diperkuat demi menjaga eksistensi budaya lokal di tengah tantangan zaman yang semakin dinamis. Kehadiran berbagai elemen seni dalam satu panggung tidak hanya menjadi hiburan semata, namun juga menjadi momentum penting untuk merekatkan tali silaturahmi serta meneguhkan komitmen kolektif dalam melestarikan warisan leluhur bagi generasi mendatang.













